Beranda | Artikel
Bacaan Sujud Subhaana Rabbiyal Alaa
11 jam lalu

Bacaan Sujud Subhaana Rabbiyal A’laa ini merupakan bagian dari kajian Islam ilmiah Fiqih Doa dan Dzikir yang disampaikan oleh Ustadz Abdullah Zaen, M.A. Hafidzahullah. Kajian ini disampaikan pada Senin, 5 Ramadhan 1447 H / 23 Februari 2026 M.

Kajian Tentang Bacaan Sujud Subhaana Rabbiyal A’laa

Bacaan pertama yang dibahas adalah bacaan yang paling pendek dan paling umum digunakan, yaitu:

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى

“Maha Suci Rabbku Yang Mahatinggi.” (HR. Muslim).

Berdasarkan tuntunan tersebut, batas minimal membaca doa ini adalah satu kali. Jika seseorang membaca Subhana Rabbiyal A’la sebanyak satu kali saat sujud, shalatnya sudah dianggap sah karena telah memenuhi kriteria minimal tuma’ninah.

Penting bagi setiap muslim untuk memperhatikan tuma’ninah, terutama saat menjadi makmum. Jika saat bepergian kita mendapati jamaah yang sudah berlangsung, disarankan untuk bergabung dan tidak membuat jamaah baru di tempat yang sama.

Namun, jika muncul keraguan terhadap tuma’ninah imam yang gerakannya sangat cepat, kita dapat mengukurnya saat imam sedang rukuk atau sujud. Apabila durasi rukuk atau sujud imam diperkirakan cukup untuk membaca satu kali bacaan sujud secara sempurna, maka imam tersebut masih dikategorikan tuma’ninah dan kita diperbolehkan bermakmum di belakangnya.

Pentingnya Kedudukan Rukun Tuma’ninah

Kehati-hatian dalam memilih imam sangat penting agar shalat tidak batal. Sebagai contoh, Syekh Ibrahim Ar-Ruhaili Hafidzahullah pernah mengulangi shalat Zuhurnya setelah bermakmum kepada seorang imam yang dinilai tidak tuma’ninah. Tindakan tersebut dilakukan karena thuma’ninah adalah rukun shalat. Jika imam melakukan shalat tanpa tuma’ninah, shalatnya tidak sah, dan hal itu berimbas pada keabsahan shalat makmum di belakangnya.

Keabsahan shalat makmum sangat bergantung pada keabsahan shalat imam. Apabila seorang imam mengalami hadas, seperti buang angin, namun tidak bersedia menghentikan shalatnya, maka makmum yang mengetahui hal tersebut turut batal shalatnya jika tetap mengikuti imam tadi. Jika imam bersedia mundur dan posisinya digantikan oleh orang lain, shalat makmum tetap sah. Fenomena saat ini menunjukkan kecenderungan bahwa imam yang shalatnya cepat justru menjadi favorit di tengah masyarakat. Padahal, durasi gerakan shalat berkaitan erat dengan tumakninah yang merupakan rukun shalat.

Ketentuan Frekuensi Bacaan Sujud

Bacaan Subhana Rabbiyal A’la minimal dibaca sebanyak satu kali agar shalatnya sah. Namun, bacaan tersebut akan lebih sempurna jika dibaca sebanyak tiga kali. Seseorang diperbolehkan membaca doa tersebut lebih dari tiga kali berdasarkan contoh dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Beliau pernah melakukan sujud dengan durasi yang sangat lama.

Hal ini disimpulkan dari riwayat sahabat yang melaksanakan shalat tahajud bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Pada saat itu, beliau membaca tiga surah panjang dalam satu rakaat, yaitu Al-Baqarah, Ali Imran, dan An-Nisa. Surah Al-Baqarah sendiri memiliki panjang sekitar dua juz setengah. Durasi berdiri beliau yang sangat lama tersebut diikuti dengan rukuk yang panjangnya hampir sama dengan durasi berdiri, serta sujud yang durasinya hampir sama dengan panjang rukuknya.

Selama sujud yang sangat lama tersebut, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terus mengulang-ulang bacaan sujud “Subhana Rabbiyal A’la”. Hal ini membuktikan bahwa membaca tasbih saat sujud diperbolehkan lebih dari tiga kali. 

Bijak dalam Memilih Durasi Shalat

Meskipun diperbolehkan memperlama sujud, seorang imam harus bijaksana dalam memperhatikan kondisi makmum yang beragam. Di antara makmum mungkin terdapat orang tua, orang yang sedang sakit, orang yang memiliki keperluan mendesak, atau ibu yang membawa anak kecil. 

Seseorang diperbolehkan memperlama sujud hingga durasi yang sangat panjang hanya apabila sedang melaksanakan shalat sendirian. 

Makna dan Kandungan Bacaan Sujud

Penyempurnaan bacaan sujud dilakukan dengan mengucapkannya sebanyak tiga kali, meskipun diperbolehkan membacanya lebih dari itu. Bacaan Subhana Rabbiyal A’la merupakan bentuk pujian dan sanjungan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kalimat tersebut mengandung pengakuan bahwa Allah Maha Suci dan Maha Tinggi.

سُبْحَانَ رَبِّيَ الْأَعْلَى

“Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi.” (HR. Muslim).

Terdapat penjelasan menarik dari para ulama, di antaranya Imam Ibnu Qayyim rahimahullah, mengenai perbandingan antara bacaan rukuk dan sujud. Saat rukuk, yang diucapkan adalah al-Adzim (Yang Maha Besar), sedangkan saat sujud adalah al-A’la (Yang Maha Tinggi).

Kontras Posisi Manusia dan Kedudukan Allah

Terdapat kontras yang sangat nyata ketika seseorang sedang sujud. Pada posisi tersebut, manusia berada di titik yang serendah-rendahnya karena tujuh anggota tubuh yang pokok menyentuh lantai. Anggota tubuh tersebut meliputi dua ujung telapak kaki, dua lutut, dua telapak tangan, serta wajah yang mencakup dahi dan hidung. 

Saat raga merendah di atas lantai, lisan justru menyatakan bahwa Allah Mahatinggi. Hal ini mengajarkan manusia untuk merendahkan diri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla, menyadari kelemahan diri di hadapan Allah Yang Maha Kuat, serta memahami bahwa manusia penuh kekurangan sementara Allah Maha Sempurna.

Sujud mengajarkan sikap tawadhu atau rendah hati, bukan rendah diri atau minder. Sangat keliru apabila seseorang yang rajin menjalankan shalat justru menjadi sombong. Proses memperbaiki diri atau berhijrah, seperti mulai rajin mengaji dan menutup aurat, adalah hal yang sangat baik. Namun, perubahan positif tersebut menjadi tidak baik jika mengakibatkan munculnya rasa sombong, menganggap rendah, remeh, atau hina terhadap orang lain.

Seseorang tidak diperbolehkan merasa lebih baik dibandingkan orang lain yang mungkin belum melaksanakan shalat, belum mengikuti kajian, atau belum menutup aurat. Seharusnya, semakin rajin seseorang mengaji, semakin sering melaksanakan shalat, dan semakin banyak beramal, ia akan semakin rendah hati. Hal ini mengacu pada filosofi ilmu padi, yakni semakin berisi maka akan semakin merunduk. Rutinitas ibadah yang dilakukan seharusnya membuat seseorang semakin merasa rendah di hadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Mensucikan Pikiran dan Hati melalui Tasbih

Kata Subhana dalam bacaan sujud bermakna Maha Suci. Saat mengucapkannya, seorang hamba sedang mensucikan hati dan pikirannya dari hal-hal yang tidak layak bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Salah satu contoh yang harus disucikan adalah prasangka bahwa Allah itu tidak adil.

Prasangka buruk sering kali muncul saat seseorang mendapatkan ujian yang bertubi-tubi dalam proses hijrah. Seseorang mungkin merasa mencari rezeki terasa lebih sulit setelah berupaya memperbaiki diri dibandingkan saat sebelum hijrah. Pikiran negatif mengenai keadilan Allah ‘Azza wa Jalla harus segera dibuang karena Allah ‘Azza wa Jalla mustahil tidak adil. 

Ujian yang datang bertubi-tubi merupakan tanda kasih sayang Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hal tersebut adalah cara Allah untuk membersihkan dosa-dosa hamba-Nya. Mengingat seseorang tidak mengetahui apakah istighfar dan taubat yang pernah dilakukan sudah diterima atau belum, Allah membantu membersihkan sisa-sisa dosa masa lalu melalui ujian. 

Dengan bersihnya dosa melalui rangkaian ujian, diharapkan seseorang dapat menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam keadaan suci sehingga langsung masuk ke surga tanpa harus dibersihkan terlebih dahulu di neraka. Oleh karena itu, penting untuk tidak berprasangka buruk kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang memiliki sifat Al-A’la atau Maha Tinggi.

Tiga Pilar Keyakinan pada Kemahatinggian Allah

Berbicara mengenai kemahatinggian Allah Subhanahu wa Ta’ala, setidaknya ada tiga hal pokok yang harus diyakini oleh setiap muslim. Pertama, Allah Maha Tinggi Dzat-Nya. Kedua, Allah Maha Tinggi kekuasaan-Nya. Ketiga, Allah Mahatinggi keagungan-Nya.

1. Allah Maha Tinggi Dzat-Nya

Allah Subhanahu wa Ta’ala berada di atas seluruh makhluk-Nya. Allah ‘Azza wa Jalla berada di atas Arsy, dan Arsy merupakan makhluk yang paling tinggi. Sebagaimana yang Allah tegaskan di dalam Al-Qur’an:

الرَّحْمٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوٰى

“(Yaitu) Tuhan Yang Maha Pengasih, yang bersemayam di atas Arsy.” (QS. Taha[20]: 5).

Terdapat tujuh ayat senada di dalam Al-Qur’an, bahkan sebagian ulama menyatakan ada lebih dari seribu dalil yang menunjukkan ketinggian Allah. Para ulama telah mencapai ijma’ (kesepakatan) mengenai hal ini. Imam Abul Hasan al-Asy’ari rahimahullahu ta’ala dalam kitab beliau, Rishalatun Ila Ahlits Tsaghr, menukil kesepakatan bahwa Allah itu di atas langit dan di atas Arsy-Nya.

2. Allah Maha Tinggi Kekuasaan-Nya

Hal ini bermakna bahwa Allah ‘Azza wa Jalla memiliki kuasa penuh atas seluruh makhluk-Nya. Tidak ada satupun makhluk yang dapat lepas dari kendali kekuasaan Allah. Setiap aktivitas manusia, mulai dari langkah kaki menuju masjid hingga isi hati yang dipenuhi keikhlasan, semuanya berada di bawah kendali Allah. Demikian pula makhluk-makhluk besar seperti petir, gunung, langit, matahari, angin, dan hujan; semuanya bergerak dan beraktivitas atas kendali Allah Subhanahu wa Ta’ala.

3. Allah Maha Tinggi Keagungan-Nya

Seluruh sifat Allah adalah sempurna dan seluruh nama Allah sangat indah. Nama-nama tersebut disebut sebagai Asmaul Husna, yang berarti nama-nama yang paling indah. Di dalam berdoa, umat Islam disunahkan untuk bertawassul menggunakan Asmaul Husna karena kesempurnaan makna yang terkandung di dalamnya.

Sebagai contoh dalam dzikir pagi dan petang:

يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ

“Wahai Yang Maha Hidup, Wahai Yang Maha Mengurusi makhluk-Nya, dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan.” (HR. Tirmidzi).Sebelum memanjatkan permohonan pertolongan (astaghits), doa tersebut diawali dengan menyebut dua nama Allah yang agung, yaitu Ya Hayyu dan Ya Qayyum. Kemahatinggian keagungan Allah menandakan bahwa tidak ada satupun makhluk yang serupa dengan-Nya. Sifat dan makna yang terkandung dalam nama-nama makhluk tidak mungkin menyamai kesempurnaan sifat dan nama Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Download mp3 Kajian

Mari turut membagikan link download kajianBacaan Sujud Subhaana Rabbiyal A’laa” ini ke jejaring sosial Facebook, Twitter atau yang lainnya. Semoga menjadi pembuka pintu kebaikan bagi kita semua. Jazakumullahu Khairan.

Telegram: t.me/rodjaofficial
Facebook: facebook.com/radiorodja
Twitter: twitter.com/radiorodja
Instagram: instagram.com/radiorodja
Website: www.radiorodja.com

Dapatkan informasi dari Rodja TV, melalui :

Facebook: facebook.com/rodjatvofficial
Twitter: twitter.com/rodjatv
Instagram: instagram.com/rodjatv
Website: www.rodja.tv


Artikel asli: https://www.radiorodja.com/56102-bacaan-sujud-subhaana-rabbiyal-alaa/